TUBAN Jatim, arbiter.com // Semangat persatuan dan kerukunan antarumat beragama terus digaungkan di Kabupaten Tuban. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan Doa Kebangsaan Lintas Agama yang digelar di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Kegiatan tersebut diikuti jajaran Kemenag Tuban, tokoh lintas agama, kepala KUA, penyuluh agama, penghulu, pengawas, ASN, kepala satuan kerja madrasah, RA, MI, MTs, MA, takmir masjid, pondok pesantren, TPQ, Madrasah Diniyah serta sejumlah elemen masyarakat, baik secara luring maupun daring termasuk beberapa aqak media.
Doa kebangsaan diawali dengan pembacaan Yasin sebanyak 81.000 kali, kemudian dilanjutkan pembacaan tahlil dan doa bersama. Doa juga secara khusus dipanjatkan bagi saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah mengalami musibah.
Suasana semakin khidmat ketika doa lintas agama disampaikan oleh perwakilan masing-masing umat beragama. Dari umat Islam disampaikan oleh KH Taufiequrachman, dari Kristen oleh Pendeta Fany, Katolik oleh Romo Michal, Hindu oleh A Wayan, Buddha oleh Marjoko, dan Khonghucu oleh Ibu Mariya.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag Tuban menyampaikan pesan kebangsaan yang menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Kemerdekaan bukan hadiah. Ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata dan doa para pendahulu kita,” tegasnya.
Selain itu, Ia juga mengingatkan bahwa kemerdekaan sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan berkat rahmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu, kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan, tetapi harus disyukuri dan diwujudkan melalui pengabdian kepada bangsa dan negara.
“Hari ini tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu, kerja keras, integritas, inovasi dan pengabdian,” ujarnya.
Menurutnya, sejarah Indonesia mencatat bahwa para tokoh agama dan umatnya turut berdiri di garis depan dalam perjuangan merebut maupun mempertahankan kemerdekaan. Ulama, pendeta, pastor, pandita, bhikkhu dan tokoh agama lainnya memiliki peran penting dalam menanamkan keberanian, persatuan serta kecintaan terhadap tanah air.
Kerukunan, menjadi modal penting dalam pembangunan bangsa. Keberagaman yang dimiliki Indonesia harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. Imbuhnya.
“Indonesia besar karena keberagaman. Karenanya, kerukunan menjadi modal dasar pembangunan. Tanpa kerukunan, bangsa ini sulit bertumbuh dan maju,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa Indeks Kerukunan Umat Beragama meningkat dari 76,45 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025, yang disebut sebagai capaian tertinggi. Sementara Indeks Kesalehan Umat Beragama 2025 mencapai 84,61.
Ia mengajak seluruh masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan maupun menjauh satu sama lain.
“Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan bermusuhan. Jangan biarkan agama menjadi alasan saling menjauh. Jadikan agama dan nilai-nilainya sebagai jalan untuk saling menguatkan dan memberikan makna kehidupan,” pesannya.
Ia menegaskan, rumah ibadah harus menjadi tempat yang menenteramkan. Demikian pula madrasah, pesantren, majelis taklim, sekolah minggu, pasraman, widyalaya dan ruang kajian keagamaan harus menjadi tempat tumbuh dan berkembang nya ilmu pengetahuan dan akhlak.
“Agama harus menjadi sumber pencerahan, kedamaian serta kemaslahatan,” tegasnya.
Kegiatan Doa Kebangsaan Lintas Agama tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Asta Protas, khususnya dalam upaya meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan.
Melalui kegiatan tersebut, seluruh elemen lintas agama di Tuban diharapkan semakin memperkuat rasa persatuan dan kesatuan serta bersama-sama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Semoga Indonesia tetap jaya dalam lindungan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Indahnya kebersamaan kita hidup di negara Indonesia yang majemuk. Duduk bersama dan tingkatkan ukhuwah Islamiyah serta ukhuwah basyariyah,” pungkasnya. (Teguh.Iw)






