Pandangan Ketua KWI Bojonegoro: Pernyataan Anggota DPR “Wartawan Perusak?” Menampar Akal Sehat Publik

Teguh: Pernyataan seorang oknum anggota DPRD Provinsi Jawa Barat yang menyebut dan/atau mengatakan bahwa wartawan sebagai “perusak” bukan sekadar keliru, itu sangatlah berbahaya.

Bojonegoro Jatim, arbiter.com // Menanggapi pernyataan oknum anggota Dewan Fraksi Partai Golkar, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi wilayah Jawa Barat Tati Supriati Irwan, S. Sos. Teguh Imam Waluyo selaku Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Komunitas Wartawan Indonesia (KWI) Wilayah Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur kali ini angkat bicara.

Pasalnya, di tengah kondisi demokrasi yang terus diuji, ucapan semacam itu justru memperlihatkan betapa rapuhnya pemahaman sebagian elite terhadap fungsi pers.

Wartawan bukan perusak

Mereka adalah pilar keempat demokrasi. Mereka bekerja di lapangan, menggali fakta, membuka tabir kekuasaan, dan menyuarakan kepentingan publik yang kerap diabaikan.

Jika ada yang merasa “dirusak” oleh pemberitaan, barangkali yang terganggu bukan medianya, melainkan fakta yang terungkap.

Ironisnya, pernyataan itu datang dari wakil rakyat. Mereka yang seharusnya menjunjung tinggi transparansi, justru terkesan alergi terhadap kritik.

Padahal, dalam negara demokrasi, kritik bukan ancaman, melainkan vitamin bagi kekuasaan agar tetap waras dan terkendali.

Apakah setiap wartawan selalu benar?

Tentu tidak. Pers juga bisa salah, dan mekanisme koreksi dan/atau hak jawab sudah diatur dalam kode etik jurnalistik dan UU Pres.

Akan tetapi bilamana menyapu bersih profesi wartawan dengan label dan/atau kalimat “perusak” adalah bentuk generalisasi yang mencederai akal sehat.

Lebih jauh, narasi seperti ini berpotensi menjadi legitimasi terselubung untuk membungkam media. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin ruang kebebasan pers akan semakin tergerus , pelan tapi pasti.

-Publik patut bertanya:

Siapa sebenarnya yang merusak? Wartawan yang membongkar fakta, atau pejabat yang tak siap menghadapi kenyataan.

Pernyataan tersebut seharusnya menjadi alarm

Bahwa masih ada sebagian kekuasaan yang belum siap hidup dalam terang. Dan selama itu terjadi, wartawan akan tetap berdiri , bukan sebagai perusak, tapi sebagai penjaga kebenaran. (Siswo.L)

Editorial: Korwil Jatim

Pos terkait