Kuningan – Media ARBITER.com
Penghargaan KEJAR Award dan Financial Literacy Award 2026 yang diraih Bank Kuningan patut diapresiasi. Program menumbuhkan budaya menabung dan meningkatkan literasi keuangan pelajar memang merupakan kegiatan positif. OJK sendiri menempatkan program KEJAR sebagai bagian dari upaya memperluas akses rekening dan budaya menabung sejak dini.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan: penghargaan di bidang literasi keuangan pelajar tidak otomatis berarti seluruh kinerja Bank Kuningan telah sempurna.
Berita mengenai penghargaan tersebut lebih banyak menonjolkan capaian program SimPel, akumulasi saldo tabungan pelajar dan aktivitas edukasi literasi keuangan. Pertanyaannya, bagaimana dengan indikator kesehatan dan tata kelola bank secara keseluruhan?
Laporan Tahunan Bank Kuningan Tahun Buku 2025 justru menunjukkan adanya sejumlah angka yang layak menjadi perhatian publik. NPL Gross tercatat 4,92 persen dengan nominal kredit bermasalah sekitar Rp11,9 miliar. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank 2025 maupun realisasi tahun sebelumnya. Sementara Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 114,74 persen.
Pengamat Perbankan, Ronny Rubiyanto, mempertanyakan apakah angka-angka yang tercantum dalam laporan tersebut benar-benar mencerminkan kondisi riil keuangan bank atau sekadar catatan akuntansi yang belum tentu menggambarkan ketersediaan dana secara nyata. “Apakah itu sudah sesuai kondisi real keuangan atau sekadar catatan yang sebenarnya uangnya tidak ada?” ujarnya.Rabu ( 26/8/2026 )
Menurut Ronny, salah satu cara sederhana untuk menguji kondisi tersebut adalah ketika nasabah menarik dana dalam jumlah tertentu secara bersamaan. “Hal itu bisa dicek kebenarannya jika nasabah mencoba menarik uangnya dalam jumlah tertentu secara bersamaan. Itulah fakta sebenarnya, bukan hanya disuguhi dongeng akuntansi dan tumpukan penghargaan yang manfaat nyatanya tidak bisa dirasakan,” katanya.
Karena itu, publik berhak bertanya: apakah penghargaan literasi keuangan cukup untuk menjadi ukuran keberhasilan sebuah bank milik pemerintah daerah?
Tentu tidak.
Bank Kuningan bukan sekadar institusi yang mengajak pelajar menabung. Sebagai BPR milik Pemerintah Kabupaten Kuningan, ukuran keberhasilannya juga harus dilihat dari kualitas kredit, pengelolaan risiko, likuiditas, efisiensi, tata kelola, perlindungan nasabah, serta seberapa besar manfaatnya bagi perekonomian masyarakat Kuningan.
Apalagi sebelumnya Bank Kuningan juga memperoleh Golden Champion dalam ajang Infobank BPR Award 2026 setelah mempertahankan predikat “Sangat Bagus” selama lima tahun berturut-turut.
Prestasi tersebut tentu patut diapresiasi. Tetapi semakin banyak penghargaan yang diterima, semakin besar pula tuntutan agar publik mendapatkan informasi yang transparan mengenai angka-angka di balik penghargaan tersebut.
Berapa jumlah rekening SimPel yang berhasil dihimpun? Berapa total saldo pelajar? Berapa pertumbuhannya dibandingkan tahun sebelumnya? Bagaimana kualitas kredit bank? Bagaimana perkembangan NPL? Bagaimana posisi likuiditas? Dan yang tidak kalah penting, berapa kontribusi nyata Bank Kuningan terhadap Pendapatan Asli Daerah serta perekonomian masyarakat?
Jangan sampai penghargaan hanya menjadi etalase prestasi, sementara persoalan fundamental bank luput dari perhatian.
Penghargaan adalah apresiasi, bukan pembebasan dari evaluasi.
Ronny menegaskan, kritik tersebut bukan berarti meremehkan penghargaan yang diterima Bank Kuningan. Menurut dia, justru penghargaan harus diikuti keterbukaan mengenai kondisi keuangan yang sesungguhnya agar masyarakat tidak hanya melihat prestasi dari sisi seremonial.
Bank Kuningan memang layak mendapatkan apresiasi atas keberhasilannya dalam literasi keuangan pelajar. Namun sebagai bank milik pemerintah daerah, keberhasilan sejatinya harus dibuktikan bukan hanya melalui piagam penghargaan, melainkan melalui kinerja keuangan yang sehat, tata kelola yang transparan, pelayanan yang baik, kredit yang berkualitas, serta manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah.
Dengan demikian, publik tidak sedang meremehkan penghargaan Bank Kuningan. Justru sebaliknya, publik sedang menempatkan penghargaan tersebut secara proporsional.
Prestasi boleh dirayakan, tetapi angka tetap harus diperiksa. Penghargaan boleh dipajang, tetapi akuntabilitas tidak boleh ditinggalkan.
red






